Home | Sitemap | Contact |      SEARCH  
 

Apexindo Bagi Dividen Rp 10

Dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) tahunan PT Apexindo Pratama Duta Tbk telah direkomendasikan untuk pembagian dividen. Dana yang dipakai untuk dividen itu berasal dari saldo laba ditahan perseroan, yang belum ditentukan penggunaannya per 31 Desember 2004. Besaran dividen disepakati Rp 10 per saham. Apexindo selalu berupaya untuk membagikan keberhasilan usaha melalui dividen yang tiap tahun diupayakan terus meningkat sesuai kemampuan perseroan. "Tahun ini kami membagikan dividen sebesar Rp 10 per saham, terus meningkat dari tahun sebelumnya" jelas Direktur Keuangan Apexindo Pratama Duta Agustinus B Lomboan, di Jakarta, Selasa (10/5).

Ia menambahkan, RUPS juga menyetujui penetapan cadangan umum perseroan yang diambil dari saldo laba ditahan. Selain itu, RUPS sekaligus memberikan kewenangan kepada direksi dan komisaris untuk menunjuk akuntan publik untuk mengaudit laporan keuangan perseroan tahun buku 2005, serta menyetujui besaran gaji beserta tunjangan lainnya untuk komisaris dan direksi perseroan.

Rugi KursSementara itu, pada kuartal I tahun 2005, Apexindo membukukan rugi bersih sebesar Rp 4,6 miliar. Sedang pada kuartal I tahun 2004 perseroan meraih laba bersih sebesar Rp 20,3 miliar.  "Kerugian perseroan kuartal I tahun ini disebabkan terkikisnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS," demikian diungkapkan Direktur Utama Apexindo Pratama Duta Hertriono Kartowisastro. Menurut dia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada kuartal I tahun ini berada pada kisaran Rp 9.480, sementara itu akhir tahun 2004 masih pada kisaran Rp 9.290. Akibat perbedaan nilai tukar yang cukup tajam itu, perseroan akhirnya membukuhkan rugi bersih. Meski demikian, katanya, kerugian tersebut bukan kerugian yang sudah terealisasi.

Hertriono menegaskan, kendati perseroan pada kuartal I tahun ini masih membukuhkan rugi bersih, namun pendapatan usaha naik tipis 1,2% dari Rp 234,9 miliar tahun 2004 menjadi Rp 237,8 miliar tahun 2005.  Demikian pula dengan pendapatan sebelum biaya bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) juga meningkat tipis 2,5%, dari Rp 91,1 miliar di kuartal I tahun 2004 menjadi Rp 93,4 miliar tahun 2005 untuk periode yang sama. "Kami memang masih rugi tapi ada peningkatan pendapatan," ujarnya.  Hertriono mengungkapkan, setelah direstrukturisasinya sebagian besar pinjaman perseroan dalam mata uang dolar AS, menyusul penerbitan obligasi perseroan, pengaruh fluktuasi nilai tukar selanjutnya praktis dapat dieliminasi.

Belum terlihatnya peningkatan signifikan kinerja perseroan di kuartal I tahun 2005, menurut dia, karena semua rig lepas pantai telah beroperasi penuh di tahun 2004 hingga saat ini. Sedang peningkatan kegiatan rig darat baru akan tercermin pada kuartal II, mengingat Rig 10 yang bekerja untuk Vico baru akan memulai operasinya Mei mendatang. Sementara itu, rig darat lainnya seperti Rig 4, Rig 5, dan Rig 8 sedang dipersiapkan untuk mengikuti tender kontrak yang target pekerjaannya baru akan dimulai setelah pertengahan tahun 2005. (c65)