Bisnis Indonesia, Kamis, 22/10/2009 JAKARTA: Sebanyak 10 kontrak kerja sama wilayah kerja migas, termasuk gas metana batu bara, akan segera ditandatangani oleh menteri energi dan sumber daya mineral yang baru. Kesepuluh kontrak tersebut terdiri dari wilayah kerja migas dan CBM yang telah ditender tahap kedua 2008 pada Desember tahun lalu. Dirjen Minyak dan Gas Bumi Evita Herawati Legowo mengatakan 10 blok tersebut terdiri dari lima blok migas dan lima blok CBM. Penandatanganan kontrak tersebut merupakan kelanjutan dari hasil pengumuman pemenang tender reguler tahap kedua bulan lalu. "Kalau [KKS] wilayah kerja migas sudah siap ditandatangani, sedangkan blok CBM masih dalam proses. Mengenai waktunya, bergantung pada Menteri ESDM yang baru saja," jelasnya kemarin. Evita menjelaskan penandatanganan KKKS migas diharapkan bisa dilakukan pada pertengahan Oktober. "Tapi karena waktunya terlalu dekat dengan pemilihan menteri Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, diputuskan penandatanganan dilakukan sesudah Menteri ESDM baru terpilih." Bulan lalu, pemerintah mengumumkan pemenang dari lima blok migas yang terdiri dari Andaman III, West Gelagah Kambuna, Halmahera Kofiau, East Bula, dan West Papua IV. Selain kelima blok itu, pemerintah juga menawarkan Andaman I-II, South Bulungan, North Surumana, Karaeng, Selayar, Kambuno, Aru, dan West Papua I-III. Adapun, untuk CBM pemerintah sebelumnya telah menetapkan pemenang lelang tahap I 2009 yaitu GMB Rengat di Sumatra Tengah-Riau, GMB Barito, Kalimantan Tengah, GMB Sanga-sanga, Kalimantan Timur. Artinya, terdapat dua blok CBM tambahan yang akan ditandatangani antara pemerintah dan investor. Sebelumnya, Evita mengaku tidak puas dengan seretnya peminat blok migas di Tanah Air. Bahkan, dirjen migas sempat menyebut masalah ketidakpastian regulasi terkait cost recovery sebagai salah satu penyebab minimnya investor baru. Selain masalah cost recovery, masalah teknis terkait sumber daya migas yang dikandung suatu blok juga menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan oleh investor. Seperti diketahui, ExxonMobil baru-baru ini mengumumkan kegagalan untuk menemukan migas di Sumur Rangkong-1 Blok Surumana yang sedang dieksplorasinya. Perusahaan migas asal AS itu pun melego 20% sahamnya di Surumana dan Mandar kepada Petronas. Dari lima blok yang menjerat investor, tiga di antaranya digenggam oleh satu konsorsium, yaitu konsorsium Black Gold Energy LLC-Niko Resources Ltd untuk Halmahera Kofiau, East Bula, dan West Papua IV. Berdasarkan penelusuran Bisnis, Black Gold Energy dan Niko Resources terlihat aktif menguasai blok-blok migas yang ditawarkan pemerintah dalam 2 tahun terakhir. Rudi Ariffianto |